Kamis, 06 Agustus 2009

PARANORMAL

Sebenernye ini cerite bukan tempatnye disini, harusnye di "hanya ilusi" tapi ngga ape-ape deh. Biar isi blognye rade imbang

Fandi berdiri mematung dengan tangan bergetar, kepalan tangannya serasa mulai berkeringat. Ia berusaha menahan diri untuk tidak mendaratkan tamparannya ke wajah istrinya yang sejak tadi bersimpuh memohon ampun. Deraian air matanya serta isak tangis istrinya itu, rasanya tak mampu menghapus luka hatinya yang tercabik-cabik. Rasa geram dan amarah yang begitu menggelegak menghantar tangannya perlahan-lahan terangkat dan akan di ayunkan ke wajah istrinya itu namun tiba-tiba terdengar tangisan anaknya yang baru terbangun dari tidurnya. Dengan tatapan yang menghiba ia terlihat bersandar pada daun pintu kamar sambil menangis terisak, entah keberapa kalinya anaknya itu memergoki mereka sedang bertengkar. Sontak Fandi melepaskan kaki dari pegangan istrinya lalu lari menghampiri anak satu-satunya itu dan memeluknya.
" Untuk sementara kamu tinggalkan rumah ini, aku sudah muak..!" ujarnya.
" Tapi mas..."
" Sudah sana..! jangan sampai aku berubah pikiran..."
Fandi kembali memeluk anaknya, diciuminya sambil membujuk agar segera menghentikan tangisnya. Tanpa terasa airmatanya ikut menetes, sambil mendekap anaknya..iapun teringat akan rentetan peristiwa yang kini berujung pada kehancuran rumah tangganya.

Semenjak penghuni baru mulai menempati rumah kontrakan yang persis di sebelahnya, ada perasaan yang kurang enak menyelimuti hati Fandi. Layaknya semacam firasat yang memperingatinya untuk hati-hati dan waspada terhadap keberadaan penghuni baru itu. Namun Fandi tak pernah mengungkapkan firasat yang ia rasakan itu kepada Tantri..istrinya, karena ia sendiri berharap firasat itu tidak benar dan iapun tak mau dianggap orang yang selalu berfikiran negatif seperti anggapan Tantri sebelumnya. Dan memang..baru beberapa hari saja, Tantri sudah terlihat akrab dengan tetangga barunya itu. Maklum saja Tantri itu termasuk orang yang pandai bergaul, selain itu pekerjaan sebagai seorang pedagang menuntutnya selalu ramah kepada setiap orang. Setiap orang yang terlihat kemampuan ekonominya cukup memadai dianggap Tantri sebagai aset untuk menjadi salah satu konsumen barang dagangannya. Secara kebetulan pasangan suami istri penghuni kontrakan baru itu ternyata masih satu kampung halaman dengan mereka di daerah Jawa Tengah. Tetapi keakraban Tantri dengan tetangganya itu tidak berlaku bagi Fandi, walau sesekali saling tegur sapa untuk sekedar basa-basi tetapi ia sulit mengakrabkan diri karena firasat itu masih terus menghantuinya.

Minggu-minggu pertama, layaknya detektif partikelir..Fandi selalu mengawasi dan memperhatikan gerak-gerik tetangga barunya itu. Terkadang Fandi jadi malu sendiri dengan tingkah lakunya yang tidak patut itu. Apalagi setelah berjalan tiga bulan sejak tetangga baru itu ada, tak ada sedikitpun tanda-tanda dari firasat Fandi sebelumnya dan tak ada sedikitpun tindakan-tindakan dari pasangan suami istri itu yang merugikan para tetangga maupun keluarga Fandi sendiri. Lagipula keluarga itupun terlihat seperti keluarga yang taat beribadah sehingga sedikit demi sedikit hati Fandi mulai tenang dan firasat buruk yang semapat dirasakan sebelumnya kini ia coba buang jauh-jauh.

Sampai kemudian dibulan-bulan berikutnya, mulai terlihat sedikit perubahan dari keluarga itu yang dirasakan Fandi cukup aneh. Satu persatu dan silih berganti ada saja orang bertamu ke rumah tetangga barunya itu bahkan ada yang sampai menginap beberapa hari. Sebenarnya bagi Fandi itu adalah hal biasa bagi dia karena sebagai orang daerah ikatan keluarga begitu erat apalagi ditempat perantauan. Jadi siapapun yang datang..entah orang tua, paman, keponakan atau siapapun baginya tak menjadi soal yang penting tak ada tindakan dari mereka yang seolah-olah mengganggu ketentraman kehidupan pribadinya.

Suatu hari Tantri menceritakan dengan antusias bahwa salah satu tamu yang menginap di keluarga itu adalah seorang paranormal, paranormal atau dukun..Fandi tak tahu pasti, " apa bedanya..?" pikir Fandi. Menurut Tantri paranormal itu adalah penasihat spiritual dari pasangan keluarga itu. Fandi yang tidak terlalu percaya pada hal semacam itu sempat terkekeh mendengar ucapan istrinya, karena dari yang ia dengar juga lihat di tv..yang punya penasihat spiritual hanyalah para artis yang ingin kemasyurannya tak mudah luntur atau para pejabat yang ingin jabatannya tetap langgeng sehingga ia dapat terus menumpuk hartanya. Tantri melotot saat Fandi menertawakan ucapannya.." Ndeso...!" sungutnya waktu itu, namun ia tetap meneruskan ceritanya dengan antusias. Tantri juga mengatakan bila ia sempat diterawang mengenai berbagai hal dari kehidupan rumah tangga mereka, pekerjaan suami sampai pada kondisi rumah tinggal yang mereka tempati sekarang ini. Sebenarnya Fandi malas mendengarkan cerita istrinya itu, bukan karena ia tak percaya pada hal-hal gaib tetapi ia tidak berminat sama sekali dengan dunia paranormal. Ia berprinsip bahwa jodoh, rejeki dan maut semuanya ada ditangan Tuhan..tinggal bagaimana manusia menyikapi dan menjalani kehidupan itu.

Keengganan Fandi mendengarkan cerita Tantri berbuntut pada kejengkelan, menurut paranormal itu kehidupan rumah tangganya akan selalu ditimpa prahara, pertengkaran-pertengkaran akan selalu datang silih berganti baik pertengkaran yang kecil sampai yang besar. Katanya lagi..rejekinya tak akan lancar sedangkan karirnya tak akan ada kemajuan alias mentok disitu-situ saja, semua itu di sebabkan rumah yang kini mereka tempati juga dihuni oleh makhluk-makhluk ghaib yang keberadaannya membawa pengaruh negatif.
" Lalu apa solusinya..?" tanya Fandi sinis
" Kita harus pindah..mas !" jawab Tantri singkat.
Fandi langsung naik pitam, semudah itu solusi yang ditawarkan oleh paranormal itu. Bayangkan saja, rumah ini ia beli dari tabungan hasil jerih payah dan cucuran keringatnya lalu dengan mudahnya rumah ini divonis tidak layak dan tidak pantas ditempati. Sedangkan pertengkaran-pertengkaran yang sering terjadi memang ia akui, namun itu akibat mereka sama-sama keras kepala terutama istrinya yang selalu mau menang sendiri dan setiap masalah yang ada selalu ditanggapi dengan amarah yang meluap-luap. Andai saja istrinya itu sedikit saja bisa menahan diri barangkali pertengkaran-pertengkaran yang pernah ada seminim mungkin bisa dihindari.

Fandi sendiri seringkali merasa malu bila mereka bertengkar karena setiap pertengkaran yang terjadi segala umpatan dan makian yang terlontar dari mulut Tantri sudah pasti terdengar dan didengar oleh para tetangga. Mengenai karirnya juga tidak bisa dibilang tak ada kemajuan, awal bekerja disebuah perusahaan pembuat sepatu ia hanyalah seorang buruh yang tugasnya hanya menjahit atau memberi lem pada sepatu. Lama kelamaan menjadi operator mesin sampai kemudian satu tahun lalu diangkat sebagai supervisor hingga saat ini. Jelas-jelas salah besar bila karirnya dianggap tidak ada kemajuan.
"semua itu cuma bullshit...!!" ujar Fandi kesal. Tantri hanya diam saja mendengar umpatan suaminya waktu itu, wajahnya merah padam menahan amarah..entah apa yang dipikirkan. Apakah merasa apa yang diucapkan suaminya benar atau kali ini ia tak mau memulai pertengkaran ? hanya dia yang tahu dan kemudian Tantripun meninggalkan Fandi tanpa sepatah katapun terucap dari bibirnya.

Sejak saat itu Tantri tidak pernah lagi membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan paranormal itu, sampai suatu saat Fandi mendengar selentingan kabar dari para tetangga yang membicarakan tentang tingkah laku istrinya yang diam-diam sering bepergian dengan paranormal itu. Bagai disambar petir ketika pertama kali mendengar berita itu, tanpa basa-basi pada suatu kesempatan Fandi menginterogasi istrinya.
" Aku hanya mengantar paranormal itu kerumah temanku yang butuh pertolongan, lagipula apa salahnya aku menolong teman. Jangan terlalu picik pikiranmu mas..!" kilah Tantri ketus menjawab pertanyaan Fandi.
Tapi Fandi tidak dapat percaya begitu saja alibi yang diberikan istrinya itu, apalagi kendaraan roda dua yang susah payah ia kredit untuk membantu kelancaran uasaha dagang istrinya kini lebih sering digunakan untuk hilir mudik mengantar paranormal itu. Sampai pada akhirnya Fandi memutuskan untuk berbicara langsung dengan paranormal itu dan meminta agar tak mengganggu ketentraman keluarganya. Sayangnya saat itu sang paranormal tak kelihatan batang hidungnya, sehingga ia hanya bisa menyampaikan pesan kepada tetangga barunya agar sang paranormal jangan pernah lagi berhubungan dengan istrinya walau dengan alasan apapun juga.

Saat itu Fandi sudah sedemikian marah sehingga ia tak perduli lagi dengan siapa ia berhadapan..mau paranormal atau dukun " masa bodoh..!" pikirnya. Dan ia juga sama sekali tidak takut dia akan diteluh..disantet atau apapun istilahnya , yang terpenting paranormal itu segera angkat kaki dari situ dan sehingga ketentraman keluarganya dapat kembali seperti semula.Dan memang sejak saat itu paranormal itu tak pernah kembali lagi sehingga hati Fandipun berangsur-angsur mulai tenang kembali. Tapi perkiraannya keliru...sangat keliru..!

Kini semuanya telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Ternyata hubungan istrinya dengan paranormal itu masih tetap berjalan dan parahnya lagi hubungannya dengan paranormal itu bukan lagi sekedar hubungan paranormal dengan pasiennya tetapi lebih dari itu. Yang lebih menyesakkan bagi Yogi bukan hanya kehormatan yang telah diberikan istrinya secara cuma-cuma tetapi harta dan uang yang bernilai jutaan rupiah serta terakhir motor kreditan yang belum lunaspun ikut raib tak tahu kemana rimbanya. Namun rasa sakitnya itu tak cuma dirasakannya sendirian, ternyata orang yang didengung-dengungkan sebagai orang pintar, paranormal yang mumpuni ternyata tak lebih daripada seorang penipu ulung. Bukan hanya istrinya yang jadi korbannya tetapi banyak orang lain yang mengalami kejadian yang sama. Fandi hanya bisa menghela nafas panjang, hanya bisa terdiam sambil terus berusaha menghentikan tangis anak dalam pelukannya.


September 2008

6 komentar:

  1. Betapa manusia adalah mahluk lemah yang sering melemahkan dirinya. Semoga kita terhindar dari kedzolimin baik oleh orang lain maupun oleh diri kita sendiri.

    BalasHapus
  2. wah.. tuh cerpen apa kjadian nyata mas.. tragis bner.. ada bnyak pesan yang bisa di petik dari postingan mas ini.. q rasa jangan mudah percaya sama orang, apalagi yang baru di kenal, juga slayak nya qta hnya percaya padaNYa karena hnaya kepadaNYa qta memohon dan berserah..nice posting mas..

    BalasHapus
  3. Duh ..fandi lara sungguh nasibnya ...
    makanya jangan syirik dan percaya sama para normal.
    Nice story...

    BalasHapus
  4. wah, tuh paranormal cari kesempatan dalam kesempitan. pasti dia meramalkan begitu karna udah lama ngincar isterinya Fandi. nice story.

    BalasHapus
  5. @ Newsoul : Amiiiin...!

    @ Dewi : Ide cerita memang dari kenyataan tapi lika-liku cerita cuma khayalan.

    @ Kabasaran : Bener bang..! bahaye kalo percaye gitu-gituan.

    @ Mba Fanny : Wah..memang sekarang jaman edun..kalo engga ati-ati dan waspade bise runyem..

    Makasih semua atas Komennya...

    BalasHapus
  6. Mampir lagi. Paranormal, penyakit sosial yang seyogyanya harus dihindari. Semoga di bulan suci ini dapat meningkatkan imtaq kita. Marhaban ya ramadhan, maaf lahir dan bathin.

    BalasHapus